Beranda / Lifestyle / Adakah Perbedaan Antara Kebiasaan dan Kecanduan? Ini Kata Para Ahli

Adakah Perbedaan Antara Kebiasaan dan Kecanduan? Ini Kata Para Ahli

SMARTLIFE.ID – Meski kebiasaan dan kecanduan sama-sama melibatkan perilaku yang dilakukan berulang kali, akan tetapi, terdapat perbedaan yang mendalam antara keduanya.

1. Apa itu Kebiasaan dan Kecanduan?

Kebiasaan merupakan perilaku yang dilakukan berulang-ulang dan terkadang otomatis karena ketika melakukannya tidak disadari.

Kebiasaan ini bisa berbentuk positif maupun negatif, seperti berolahraga di sore hari, atau merokok.

Baca Juga: Mulai Bulan Juni 2025 Pelajar di Jawa Barat Punya Jam Malam, Dedi Mulyadi Teken SE Larangan Keluar Rumah di Atas jam 21.00 WIB

Kebiasaan ini terbentuk dari pengulangan dalam jangka waktu tertentu dan berasal dari kebutuhan atau kepuasan pribadi.

Sedang kecanduan (atau addiction) adalah ketergantungan terhadap suatu perilaku maupun substansi.

Seringkali, kecanduan dipengaruhi oleh dorongan yang sulit dikontrol meski dampaknya negatif.

Baca Juga: Rukita Tawarkan Promo Kost Gratis 3 Bulan untuk Mahasiswa Baru di 19 Kampus Favorit

Karena sulit dihentikan, kecanduan biasanya berhubungan dengan perubahan kimia dalam otak atau fisik.

2. Aspek Psikologis dan Fisik

Dr. Charles O’Brien, seorang profesor psikologi di University of Pennsylvania, mengatakan bahwa perilaku berulang bukanlah satu-satunya faktor dari timbulnya kecanduan, tetapi juga termasuk perubahan kimia di dalam otak yang berpengaruh terhadap sistem penghargaan.

Ketika seseorang mengalami kecanduan, otak mereka akan menghubungkan perilaku atau substansi tertentu dengan kenikmatan sehingga berpotensi meningkatkan kecenderungan untuk terus melakukan perilaku tersebut meski terdapat risiko negatif atau yang sering disebut sebagai “loop penghargaan” dalam neurobiologi.

Baca Juga: Zensure III Hadir di SOGO! Kombinasi Pijat, Terapi Tulang, dan Gaya Hidup Modern

Sedang kebiasaan, menurut Dr. Wendy Wood, seorang ahli psikologi dari University of Southern California, terbentuk dari repetisi dan otomatisasi.

Sehingga kebiasaan tidak melibatkan fisik atau emosi yang mendalam saat melakukannya.

Cukup dibentuk dengan sedikit motivasi atau urgensi, kebiasaan tidak akan merubah fisiologis di dalam otak secara signifikan.

Baca Juga: Usai Kunjungan Presiden Macron ke Candi Borobudur, Bagaimana Nasib Stairlift? Menteri Kebudayaan: Kita Coba Permanenkan

3. Pengaruh Emosional

Menurut Dr. Nora Volkow, Direktur National Institute on Drug Abuse (NIDA) karena kecanduan melibatkan dorongan yang sangat kuat secara emosional, hal ini dapat menurunkan kemampuan seseorang untuk mengontrol diri.

Hal tersebut mungkin terjadi karena adanya dopamin (neurotransmitter yang berperan dalam mengatur rasa senang atau penghargaan) yang dilepaskan secara berlebihan selama perilaku yang menyebabkan kecanduan berlangsung.

Karena ketergantungan terhadap dopamin tersebut, seseorang akan terus menerus menginginkannya.

Baca Juga: Rahasia Kamar Mandi Bersih dan Estetik, Bikin Betah Setiap Hari

Sedang kebiasaan, lahir dari kebutuhan rutin atau kenyamanan yang tidak melibatkan dorongan emosional, meski kebiasaan pun dapat berdampak negatif, kebiasaan tidak bersifat adiktif sehingga lebih mudah untuk dikontrol.

 

4. Dampak Negatif

Perbedaan yang paling jelas antara kebiasaan dan kecanduan adalah dampak yang dihasilkannya. 

Kecanduan dapat merusak kehidupan sosial, fisik, dan juga emosional seseorang.

Baca Juga: Revolusi Hijau dan Digital, Sinergi PLN Icon Plus dan APKASI untuk Kabupaten Se-Indonesia

Hal tersebut dapat terlihat dari terabaikannya hubungan sosial, pekerjaan, atau kesehatan.

Salah satu contohnya adalah kecanduan alkohol yang dapat merusak organ tubuh.

Sedang kebiasaan, meski memiliki dampak negatif seperti kurang olahraga, biasanya tidak sampai merusak seperti kecanduan.

Baca Juga: Syarat Batas Usia Loker Tak Sepenuhnya Dihapus, Begini Peraturannya

Selain itu, kecanduan dapat lebih mudah dikendalikan dan dihentikan, terutama jika dampaknya sudah diketahui.

Meski kebiasaan cenderung memiliki dampak yang lebih ringan tetapi kebiasaan tetap berpotensi menjadi masalah jika berlarut-larut.

5. Pengobatan dan Penanganan

Menurut Dr. Mark Willenbring, mantan direktur dari Treatment and Recovery Research di NIDA, kecanduan seringkali memerlukan intervensi medis yang lebih intensif dan multidimensional, termasuk dukungan sosial, terapi perilaku kognitif, bahkan pengobatan untuk membantu mengatasi gejala putus zat (withdrawal).

Baca Juga: Ramai! Mobil Penabrak Mahasiswa UGM Diduga Ganti Pelat Nomor, Polisi Bongkar Ada Tidaknya Motif Mengaburkan Barang Bukti

Sehingga pemulihan dari kecanduan seringkali berjangka panjang dan berkelanjutan.

Di sisi lain, kebiasaan lebih mudah diubah dengan kesadaran dan pengendalian diri, meski tetap memerlukan upaya yang bertahap dan konsisten.

6. Waktu untuk Berhenti dari Kecanduan dan Membentuk Kebiasaan

Menurut Dr. Phillippa Lally, seorang ahli psikologi di University College London, kebiasaan baru biasanya membutuhkan sekitar 66 hari untuk sepenuhnya terbentuk dan otomatis.

Baca Juga: Ramai! Mobil Penabrak Mahasiswa UGM Diduga Ganti Pelat Nomor, Polisi Bongkar Ada Tidaknya Motif Mengaburkan Barang Bukti

Bisa dibilang, kebiasaan dapat dibentuk dengan repetisi yang dilakukan dalam waktu yang relatif singkat, selama seseorang konsisten.

Sebaliknya, kecanduan membutuhkan waktu yang lebih lama untuk dipahami dan diatasi.

Sehingga, seseorang yang mengalami kecanduan cenderung membutuhkan bantuan dari profesional untuk membantu mereka berhenti dan memulihkan diri.

Baca Juga: Buku Sehat Setengah Hati Ungkap Akar Masalah Gagalnya Program Hidup Sehat di Indonesia

Bisa dibilang, tantangan terbesarnya adalah toleransi dan gejala withdrawal yang memerlukan pendekatan jangka panjang dan dukungan yang berkelanjutan.

 

Tag: