SMARTLIFE.ID – Faizal menyadari bahwa membawakan sosok pemimpin sekte sesat bukanlah hal yang mudah, apalagi dalam masyarakat yang sensitif terhadap isu keagamaan.
Meski begitu, ia menilai bahwa peran tersebut penting untuk menyampaikan pesan moral yang kuat.
“Kalau semua aktor hanya mau ambil peran baik-baik saja, lalu siapa yang akan menunjukkan sisi gelapnya? Lewat karakter seperti ini, penonton bisa belajar membedakan mana yang benar dan salah,” ujarnya tegas.
Baca Juga: Titiek Puspa Sempat Pegang Tangan Andre Taulany Saat Syuting Terakhir: ‘Suaranya Pelan Sekali’
Aktor senior Malaysia, Faizal Hussein, kembali mencuri perhatian publik lewat perannya yang kontroversial dalam serial religi Bidaah.
Dalam serial produksi Viu yang mulai tayang sejak 6 Maret 2025 itu, Faizal memerankan sosok Walid Muhammad Mahdi Ilman, pemimpin sekte sesat yang mengaku sebagai Imam Mahdi, juru selamat umat Islam menjelang kiamat.
Karakter ini langsung menyulut perbincangan hangat di kalangan penonton Malaysia karena jalan cerita dan adegan-adegan yang dianggap cukup berani.
Namun Faizal sendiri mengaku sudah mempersiapkan diri atas segala kontroversi yang mungkin muncul sejak awal.
“Saya tidak pernah merasa tertekan dengan pekerjaan saya. Anak-anak juga tidak tertekan dan mereka tidak peduli. Mereka tampaknya mengerti,” ujar Faizal Hussein, seperti dikutip dari Harian Metro pada Jumat, 11 April 2025.
Baca Juga: Titiek Puspa Dimakamkan di TPU Tanah Kusir, Dwi Andhika: Eyang Pahlawan Seni Budaya Indonesia
Sebagai aktor kawakan berusia 57 tahun yang telah malang melintang di dunia film dan televisi, Faizal mengaku tak asing lagi dengan peran-peran yang menantang norma.
Justru menurutnya, peran-peran seperti inilah yang memiliki kedalaman pesan.
“Bagi saya, untuk menyadarkan seseorang, kita harus tunjukkan dulu hal-hal yang buruk, baru orang akan sadar dan tidak mengikuti ajaran sesat,” tegas Faizal.
Ia juga mengungkap bahwa naskah serial Bidaah karya Eirma Fatima terinspirasi dari kejadian nyata, sehingga pendekatan akting dan karakterisasi harus dilakukan secara maksimal.
Termasuk adegan-adegan yang dianggap sensitif seperti adegan sentuhan fisik dan hubungan intim yang disesuaikan agar tetap menghormati hukum syariah di Malaysia.
“Saya menghormatinya [Eirma] dan apa yang dia tunjukkan terinspirasi dari kejadian nyata,” ujar Faizal.
Baca Juga: Ramadan Eksklusif ala Supercar Club, Dari Networking ke Charity dengan Sentuhan Elegan
Menurut Faizal, perannya kali ini juga menuntut banyak hafalan ayat Al-Qur’an dan monolog panjang. Ia mengaku cukup tertantang, namun tidak terbebani.
“Alhamdulillah ini hanya akting,” lanjutnya. “Sebelum bikin cerita ini, saya sudah bayangkan kalau ini bakal kayak seperti ini (viral), apalagi adegan-adegan yang kami lakoni. Memang bakal viral, tapi viral yang sehat.”
Sebagai bentuk profesionalisme, Faizal pun turut mengikuti berbagai arahan teknis dari kru, termasuk penggunaan jenggot palsu dan teknik pengambilan gambar agar tetap sesuai batas etika dan agama.










