SMARTLIFE.ID – PT Pegadaian bekerja sama dengan Forum Terpadu Gerakan Inovasi Pertanian (FORTEGIF) menyelenggarakan kegiatan sosialisasi dan pelatihan pertanian terpadu berkelanjutan (Integrated Farming) bagi Kelompok Wanita Tani (KWT) dan kelompok ternak di Desa Klempangsari, Kecamatan Kuaro, Kabupaten Paser, Kalimantan Timur, pada 4–6 November 2026.
Kegiatan ini diikuti oleh 30 peserta yang terdiri dari anggota KWT dan kelompok ternak setempat.
Program ini bertujuan mendorong integrasi sektor pertanian dan peternakan agar potensi sumber daya lokal dapat dimanfaatkan secara optimal dalam menciptakan ekosistem pertanian yang produktif, mandiri, dan berkelanjutan.
Baca Juga: Awas, Menyadap Ponsel Pasangan Bisa Kena Hukuman Penjara 10 Tahun
Melalui pendekatan pertanian terpadu, limbah peternakan dapat diolah menjadi sumber bahan organik untuk pertanian sehingga tercipta siklus produksi yang saling mendukung dan memberikan nilai tambah bagi masyarakat.
Kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen Pegadaian bersama FORTEGIF dalam memperluas penerapan program The Gade Integrated Farming (TGIF) di 12 wilayah baru di Indonesia sepanjang tahun 2026.
Program tersebut diarahkan untuk meningkatkan kapasitas kelompok masyarakat dalam mengembangkan pertanian terpadu yang berkelanjutan melalui edukasi, sosialisasi, pelatihan, serta pendampingan.
Deputi Bisnis Pegadaian Area Balikpapan, Pangalinan Matandung, yang membuka kegiatan secara langsung, menyampaikan bahwa kolaborasi Pegadaian dan FORTEGIF akan melaksanakan rangkaian sosialisasi dan pelatihan di 12 unit TGIF pada tahun 2026.
“Pegadaian bersama FORTEGIF akan melakukan serangkaian sosialisasi dan pelatihan di 12 unit TGIF pada 2026.”
Baca Juga: Memilih Layanan Tumbuh Kembang Anak: Pertanyaan Penting sebelum Mendaftar
“Program ini merupakan bagian dari perluasan TGIF di 12 wilayah baru di Indonesia, yang diarahkan untuk meningkatkan kapasitas kelompok dalam penerapan pertanian terpadu yang berkelanjutan.”
“Kami hadir di tengah ibu-ibu sekalian untuk memberikan bekal dan pengetahuan melalui kegiatan sosialisasi di Desa Klempangsari,” ungkap Pangalinan.
Ia juga berharap kegiatan tersebut dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Pegadaian, melalui Unit Pelayanan Cabang Kuaro, turut membuka peluang bagi masyarakat untuk mengenal berbagai produk dan layanan keuangan yang tersedia, termasuk investasi emas.
“Harapan kami, kegiatan ini bisa menjadi bekal bagi masyarakat.”
“Apabila nantinya sudah memperoleh hasil dan pendapatan dari kegiatan pertanian, hasil tersebut dapat dimanfaatkan untuk menabung dalam bentuk emas di Pegadaian,” tambahnya.
Dari sisi penguatan kapasitas pertanian, Sekretaris Jenderal FORTEGIF, Bahar Rahman, menyampaikan materi mengenai pengembangan pertanian terpadu berkelanjutan.
Materi yang diberikan mencakup pembuatan pupuk organik, Pengendalian Hama Tanaman (PHT), serta penciptaan ekologi pertanian melalui konsep SMILE, yaitu Sederhana, Mudah, Ilmiah, Luwes, dan Efektif.
Baca Juga: 5 Mitos Seputar Kehamilan, Mana yang Masih Moms Percaya?
Ketua Umum FORTEGIF, Sugeng Suratno, menyampaikan bahwa program ini diharapkan memberikan dampak nyata pada aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG), mulai dari pemanfaatan biomassa, peningkatan keterampilan petani, hingga penguatan tata kelola yang transparan dan akuntabel.
“Program ini tidak hanya berorientasi pada aspek lingkungan, tetapi juga peningkatan kapasitas petani dan penguatan ekonomi kelompok,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa manfaat ekonomi akan diukur melalui efisiensi biaya produksi, peningkatan produktivitas dan kualitas hasil, serta pendapatan petani.
“Seluruh dampak harus dibuktikan melalui data awal (baseline), pencatatan kegiatan, dan pengukuran yang sesuai,” tegas Sugeng.
Dukungan terhadap kegiatan ini juga disampaikan oleh Kepala Dinas Pertanian dan Hortikultura Kabupaten Paser, Dr. Erwan Wahyudi, S.P., M.Si.
Baca Juga: Mitos atau Fakta: Ibu Hamil Membenci Seseorang Bisa Membuat Wajah Anak Mirip Orang Tersebut
Menurutnya, konsep integrated farming merupakan pendekatan pertanian yang mengintegrasikan seluruh proses, mulai dari hulu hingga hilir, sehingga pengelolaan pertanian dapat berjalan lebih efektif dan memberikan keuntungan yang lebih baik bagi petani.
“Topik acara kali ini adalah integrated farming, artinya pertanian yang terintegrasi, mulai dari hulu sampai hilir.”
“Kita punya program unggulan, Paser Berbuah, yang mendorong setiap daerah memiliki ciri khas buah-buahan unggulan.”
“Kuaro memiliki kelengkeng, Long Ikis dengan durian, dan wilayah lainnya dengan komoditas unggulan masing-masing,” jelas Erwan.
Ia menambahkan bahwa pertanian yang dikelola dengan cara dan tata kelola yang tepat memiliki potensi keuntungan yang lebih besar.
Oleh karena itu, kegiatan seperti ini menjadi salah satu langkah untuk memperbaiki tata kelola pertanian sekaligus mengubah persepsi masyarakat terhadap sektor pertanian agar semakin produktif dan menjanjikan.
Sementara itu, Kepala Bidang Penganekaragaman Konsumsi Pangan Kabupaten Paser, Fasidi Winaya, menilai kegiatan ini penting dalam mendukung keamanan pangan, khususnya melalui penerapan pertanian organik.
“Kegiatan ini sangat penting karena salah satu unsur keamanan pangan adalah pertanian organik, sehingga pangan yang tersedia dapat dipastikan keamanannya,” ujarnya.
Baca Juga: 100 Nama Bayi Perempuan Sansekerta yang Tren di Kalangan Gen Beta
Menurut Fasidi, kegiatan tersebut juga menjadi momentum yang tepat untuk mempelajari pertanian terpadu berbasis ketahanan pangan.
Ia berharap praktik baik yang diperoleh dalam pelatihan dapat direplikasi di desa-desa lain di Kabupaten Paser.
Sebab, kemandirian pangan harus dimulai dari kesadaran masyarakat di tingkat rumah tangga.
Dukungan penuh juga diberikan oleh Camat Kuaro, Finandar Astaman, S.STP.
Ia menilai Desa Klempangsari memiliki potensi sumber daya manusia dan sumber daya alam yang sangat mendukung penerapan pertanian terpadu.
Salah satunya adalah ketersediaan bahan baku organik dari aktivitas peternakan yang ada di wilayah tersebut.
“Di sini terdapat peternakan ayam pedaging dengan populasi sekitar 18 ribu ekor.”
“Kotoran ayamnya cukup melimpah dan bisa dimanfaatkan.”
“Selain itu, terdapat pula peternakan sapi.”
“Ini sangat sesuai dengan tagline Desa Klempangsari, yaitu LESTARI: Lingkungan Elok, Tertata, Asri, Resik, dan Indah,” ungkap Finandar.
Ia berharap berbagai inovasi yang diperkenalkan melalui kegiatan ini dapat mendorong keberlanjutan lingkungan, khususnya melalui pengelolaan siklus pertanian dan pemanfaatan sampah organik.
Dengan demikian, semangat LESTARI tidak hanya menjadi slogan, tetapi juga diwujudkan melalui praktik nyata dalam kehidupan masyarakat.








