Tentang Jam Tangan, Antrean Panjang, dan Kekosongan yang Tidak Bisa Kita Akui
Oleh Edwin Manopo, B.Sc (Hons), M.Soc.Sci., CPHt, CCHt, CI., CT. (Master of Psychology & Hypnotherapy, Emotion & Trauma Specialist)
Jarum jam menunjukkan pukul 04.15 pagi di trotoar ibu kota yang lembap. Seorang profesional muda menggigil di dalam sleeping bag, menatap terpaku ke arah etalase sebuah butik.
Di balik kacanya bersemayam sebuah objek modular berbahan plastik cerah seharga Rp 7 jutaan, lengkap dengan tipografi oktagonal ikonis Audemars Piguet yang begitu didambakan.
Di sekelilingnya, ratusan orang tak dikenal membentuk antrean senyap yang tegang, semuanya memburu sensasi kepuasan yang persis sama.
Barang yang mereka dambakan sebenarnya hanyalah mesin mekanis produksi massal berbalut empat puluh gram plastik berbahan minyak jarak. Namun di pasar sekunder, orang-orang rela menukarnya dengan puluhan juta—setara biaya sewa apartemen beberapa bulan—hanya demi menggantungkan empat puluh gram plastik di leher mereka.
Kita gemar menganggap diri kita sebagai konsumen rasional yang tidak mudah terpengaruh. Namun transaksi yang sesungguhnya bukan tentang alat penunjuk waktu. Transaksi ini berlangsung jauh di dalam sistem saraf kita, di mana kelangkaan yang direkayasa dan kebutuhan akan pengakuan sosial telah membajak logika berbelanja yang sehat.
Mengapa sebuah jam tangan plastik bisa dihargai setara mobil bekas? Jawabannya bukan di nota pembelian. Kita perlu memeriksa apa yang terjadi di dalam diri kita saat logo prestisius disematkan di badan kita. Dalam psikologi konsumen, ada nama untuk perilaku ini: kita membeli barang mewah bukan karena butuh, tapi karena ingin menambal. Menambal ego yang rapuh, menambal perasaan tidak berdaya, menambal kekosongan yang tidak bisa kita akui dengan lantang di rapat kantor.
Kita tidak membayar ratusan juta hingga miliaran rupiah untuk ketepatan waktunya. Kita membeli prestise yang berfungsi sebagai “perisai status sosial”. Jam tangan prestisius adalah bahasa sandi universal yang berbisik kepada dunia bahwa, Saya telah sukses, saya mapan, dan saya tidak bisa diremehkan.
Ketika kolaborasi Audemars Piguet x Swatch “Royal Pop” mengemas perisai visual tersebut ke dalam cangkang biokeramik seharga Rp 7 jutaan, mereka menciptakan celah psikologis yang presisi. Mereka tahu persis demografis yang mereka bidik: generasi profesional muda yang hidup di tengah kompetisi tinggi namun dengan daya beli terbatas. Membelinya menjelma sebagai pelarian kelas sosial—cara untuk mengenakan perisai kaum ultra-kaya di atas kecemasan karier dan finansial kita sendiri, sambil berharap tidak ada yang memperhatikan terlalu seksama bahwa perisai itu hanyalah plastik.
Tentu saja, tidak semua orang yang berdiri di antrean itu sedang melarikan diri dari sesuatu. Ada kolektor yang menghargai presisi kolaborasi desain, penggemar yang telah mengikuti sejarah Royal Oak selama satu dekade, profesional yang cukup mapan untuk membeli kesenangan tanpa perlu membenarkannya kepada siapa pun. Mereka tidak sedang menambal apa pun. Mereka hanya membeli sesuatu yang mereka sukai.
Tapi perhatikan siapa yang paling cepat dan paling keras mengangguk membaca paragraf di atas.
Karena orang yang benar-benar membeli dari tempat yang utuh tidak perlu dikonfirmasi siapapun. Transaksi yang selesai sudah menjadi bukti yang cukup bagi dirinya sendiri. Yang membutuhkan konfirmasi itu—adalah kita.
Inilah mengapa antrean berjam-jam di depan butik bukan kegagalan logistik. Antrean itu adalah teater utama di mana nilai jam tangan dicetak. Di era di mana koneksi antarmanusia semakin dangkal menjadi pesan dingin di Slack atau ketukan dua kali di Instagram, antrean fisik ini berubah menjadi ruang komunal yang langka—seperti sebuah suku buatan.
Berdiri di trotoar yang lembap bersama ratusan orang dengan obsesi yang persis sama memberikan sesuatu yang selama ini kita cari di kantor dan tidak pernah kita temukan: rasa sungguh-sungguh dilihat. Penderitaan kolektif ini mengangkat transaksi ritel biasa menjadi ritual sekuler. Selama dua belas jam, Anda bukan lagi sekrup kecil korporat yang tak kasatmata. Anda dilihat, diakui, dan didekap sebuah persaudaraan yang terasa sangat nyata pada momen itu.
Kemudian kartu kredit digesek. Pintu butik tertutup. Suku buatan itu membubarkan diri, dan Anda berjalan pulang seorang diri.
Anda membuka kotak jam itu, mengenakannya, lalu menatap cermin. Di sana, dalam keheningan, fatamorgana dopamin itu mendadak menguap tanpa sisa.
Ini adalah lelucon tragis dari neurokimia manusia, kita dikodratkan untuk jauh lebih menikmati hasrat menginginkan daripada kepuasan memiliki. Otak kita memang dirancang seperti itu—dopamin mengalir deras saat mengantisipasi, bukan setelah memiliki.
Begitu euforianya memudar, yang tersisa bukan kebahagiaan. Rasa hampa yang berat seketika menghantam; kehampaan yang bahkan lebih menyakitkan daripada sebelum Anda berdiri di antrean itu. Jam tangan itu ternyata tidak mengubah apa pun di kamar Anda. Bahkan gagal menyembuhkan kesepian mendalam yang memaksa Anda rela menyusuri trotoar dingin pada pukul empat pagi. “Perisai status sosial” yang Anda banggakan kembali menjadi plastik. Anda pikir Anda yang mengakali permainan kelas atas, ternyata sistem di kepala Anda sendiri yang telah menjebak Anda.
Bahaya muncul saat kita keliru mengira bahwa membeli barang prestisius adalah cara untuk menjadi seseorang yang berarti.
Logo Audemars Piguet boleh saja bersandar di dada Anda. Namun pernahkah Anda bertanya: apa yang ada di sana, sebelum logo itu hadir?
Perhatikan apa yang sebenarnya kita abadikan saat berdiri di antrean itu. Bukan jam tangannya. Kita memotret barisannya—kita memotret diri kita yang sedang hadir, yang sedang menjadi bagian dari sesuatu, yang sedang membuktikan bahwa kita ada.
Tanyakan pada diri Anda: apa yang sebenarnya sedang Anda buktikan — dan kepada siapa?
Malam berikutnya Anda menemukan diri Anda berdiri di trotoar yang sama, dalam antrean yang berbeda, untuk objek yang berbeda:
Sebelum melangkah masuk — tataplah sejenak pantulan Anda sendiri di kacanya.
“Apakah orang yang menatap balik itu perlu semua ini untuk tahu bahwa ia ada?”









