SMARTLIFE.ID –Kolaborasi Kemenekraf dan Ramoo.id bertujuan mempercepat transformasi digital serta pemanfaatan AI di sektor ekonomi kreatif
SMARTPARENT.ID – Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif mendorong pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta pegiat ekonomi kreatif di Kabupaten Rembang untuk memanfaatkan teknologi kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) dalam mengembangkan bisnis dan meningkatkan daya saing produk lokal.
Upaya tersebut diwujudkan melalui Aktivasi Creative Hub bertajuk “AI for Business Development” yang berlangsung di Kawasan Pendopo Museum R.A. Kartini, Kabupaten Rembang, Jumat (6/11).
Kegiatan yang diikuti sekitar 150 pelaku usaha dan pegiat ekonomi kreatif dari berbagai subsektor ini dirancang untuk memperkenalkan pemanfaatan AI secara praktis dan aplikatif.
Baca Juga: Kursus Coding untuk Anak: Keterampilan Apa yang Dipelajari dan Bagaimana Memilihnya?
Melalui pelatihan ini, peserta diajak memanfaatkan teknologi AI untuk mempermudah promosi produk, menghemat waktu operasional, meningkatkan pelayanan pelanggan, hingga membantu pengambilan keputusan bisnis.
Direktur Kreativitas Teknologi Kementerian Ekonomi Kreatif, Dandy Yudha Feryawan, mengatakan bahwa pemanfaatan teknologi perlu semakin dekat dengan kebutuhan pelaku ekonomi kreatif, khususnya UMKM di daerah. Menurutnya, Rembang memiliki potensi ekonomi kreatif yang kuat, antara lain melalui kekayaan batik tulis Lasem, produk kriya, serta kuliner khas daerah.
“Kita perlu memahami bahwa AI hadir bukan untuk menggantikan manusia, melainkan untuk membantu manusia bekerja lebih cepat, lebih efisien, dan lebih cerdas. Tidak perlu takut jika belum pernah memakai AI sebelumnya. Mulailah dari satu persoalan, satu aplikasi, dan satu solusi sederhana yang dapat langsung diterapkan,” ujar Dandy.
Ia menambahkan, kegiatan ini merupakan bagian dari upaya Kementerian Ekonomi Kreatif dalam mengaktifkan simpul-simpul Creative Hub di berbagai daerah sebagai ruang kolaborasi, peningkatan kapasitas, dan pengembangan inovasi bagi pelaku ekonomi kreatif.
Baca Juga: Di Usia Berapa Anak Mulai Bisa Berbicara Lancar? Ini Jawabannya Moms
Dalam pelaksanaannya, Kementerian Ekonomi Kreatif berkolaborasi dengan Ramoo, perusahaan teknologi lokal yang mengembangkan solusi berbasis AI untuk mendukung kebutuhan pelaku usaha ekonomi kreatif. Kolaborasi ini sekaligus menjadi ruang pengenalan inovator teknologi lokal kepada pelaku usaha agar pemanfaatan teknologi dapat semakin mudah diakses dan diterapkan sesuai kebutuhan bisnis.
Pada sesi pertama, Co-founder Ramoo, M. Qodhil Adli, mengajak peserta mengenali karakteristik calon pembeli, mengidentifikasi keunggulan produk, serta menyusun materi promosi yang menarik melalui tiga elemen utama, yaitu pembuka yang memikat (hook), cerita produk, dan ajakan bertindak (call to action).
Peserta juga diperkenalkan pada tiga langkah bekerja dengan AI serta lima unsur penting dalam menyusun instruksi atau prompt, meliputi tujuan, konteks, bahan, batasan, dan bentuk hasil yang diharapkan. Pemahaman tersebut menjadi bekal agar peserta dapat berkomunikasi dengan AI secara lebih efektif dan menghasilkan keluaran yang sesuai kebutuhan usaha.
Baca Juga: Lari 5K Rasa Fashion Show, Keseruan Buttonscarves Fun Run 2026 Curi Perhatian
Memasuki sesi kedua, peserta mempraktikkan langsung pemanfaatan AI untuk menyusun Business Model Canvas, melakukan riset target pasar, serta mengembangkan konten promosi. Praktik ini dilengkapi dengan studi kasus penerapan AI pada Ramoo dan presentasi hasil kerja peserta. Kegiatan tersebut turut didukung Ahmad Aulia Hergumilang selaku Business Support Ramoo.
Dalam pelatihan ini, peserta juga dibekali pemahaman mengenai penggunaan AI secara bijak dan bertanggung jawab. Pelaku usaha diingatkan untuk memverifikasi hasil yang dihasilkan AI, menjaga etika serta perlindungan data pribadi dan data usaha, memastikan informasi produk sesuai fakta, serta menghindari klaim yang tidak dapat dibuktikan. Selain itu, pemanfaatan teknologi diharapkan tetap memperkuat identitas lokal tanpa menjiplak karya pihak lain.
Penerapan AI dapat disesuaikan dengan karakteristik dan skala masing-masing usaha. Pelaku usaha kuliner, misalnya, dapat memanfaatkannya untuk menyusun deskripsi menu yang lebih menarik dan materi promosi. Sementara itu, pengrajin batik dan kriya dapat mengembangkan narasi mengenai filosofi motif, keunikan produk, hingga proses pembuatan karya untuk memperluas jangkauan pasar.
Baca Juga: Mengenal ASD Mild, Spektrum Autisme yang Dialami Anak Syafira Haddad
Kegiatan ini terselenggara melalui kolaborasi dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Rembang yang turut menghimpun peserta dari berbagai subsektor ekonomi kreatif. Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Rembang, Isti Choma Wati, M.Pd., menyampaikan apresiasi atas dukungan Kementerian Ekonomi Kreatif dalam membuka ruang pengembangan kapasitas bagi komunitas dan pelaku ekonomi kreatif di daerah.
Menurut Isti, berbagai kegiatan yang dihadirkan Kementerian Ekonomi Kreatif di Kabupaten Rembang menjadi kesempatan penting bagi pelaku ekonomi kreatif untuk meningkatkan kompetensi, memperkuat daya saing, dan mengembangkan kemampuan promosi produk.
Ia berharap penguatan kapasitas tersebut dapat berdampak pada peningkatan nilai jual produk kreatif lokal sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat.
Baca Juga: Mengenal Infeksi TORCH saat Kehamilan dan Risiko Autisme pada Anak
Melalui Aktivasi Creative Hub ini, Kementerian Ekonomi Kreatif berharap pelaku ekonomi kreatif di Kabupaten Rembang semakin terbuka terhadap perkembangan teknologi dan mampu mengoptimalkan AI sebagai alat pendukung pengembangan bisnis. Ke depan, Creative Hub diharapkan terus menjadi ruang kolaborasi strategis antara pemerintah, pelaku usaha, komunitas, dan mitra teknologi dalam memperkuat ekosistem ekonomi kreatif Indonesia yang inovatif, adaptif, dan berdaya saing.









