SMARTLIFE.ID – Pemilihan susu pertumbuhan untuk anak sering kali menjadi dilema bagi para orang tua, terlebih di tengah beragamnya produk susu yang beredar di pasaran dengan berbagai klaim nutrisi dan tawaran harga terjangkau yang tak jarang membuat orang tua memilih tanpa mencermati kebutuhan gizi anak.
Dokter Spesialis Gizi Klinik RS Permata Depok, dr. Felianty Badralany, Sp.G.K., mengingatkan orang tua agar tidak terfokus pada merek atau klaim promosi semata, melainkan memahami kandungan nutrisi yang tercantum pada label kemasan.
Menurut dr. Feli, langkah pertama yang paling penting sebelum membeli susu pertumbuhan adalah membaca dan memahami Informasi Nilai Gizi yang tertera pada kemasan.
“Jangan terpaku pada merek susu tersebut dan klaim yang diberikan, langsung lihat label gizi yang tertera di box atau kaleng susu,” tegas dr. Feli.
Salah satu hal utama yang perlu diperhatikan dalam memilih susu pertumbuhan adalah kandungan gula, terutama jenis gula yang tercantum dalam komposisi produk.
Dokter Feli menjelaskan bahwa laktosa merupakan gula alami yang berasal dari susu dan aman dikonsumsi anak, sementara orang tua perlu mewaspadai gula tambahan seperti sukrosa dan maltodekstrin karena jumlahnya perlu diperhatikan agar tidak menambah total asupan gula harian anak secara berlebihan.
“Kandungan laktosa pada susu merupakan gula alami yang berasal dari susu itu sendiri dan aman untuk dikonsumsi anak, namun orang tua perlu mewaspadai jenis gula tambahan seperti sukrosa dan maltodekstrin, gramasi dari gula tambahan ini harus diperhatikan secara cermat karena akan terakumulasi dan menambah total asupan gula harian anak,” jelasnya.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan American Heart Association (AHA) merekomendasikan asupan gula tambahan pada anak kurang dari 10 persen dari total energi harian atau tidak lebih dari 25 gram per hari.
“Kita harus lihat berapa gram sukrosanya per takaran saji, jika anak minum susu dua kali sehari, tinggal dikalikan, efek konsumsi gula berlebihan mungkin tidak terlihat dalam jangka pendek, namun dalam jangka panjang bisa memicu risiko obesitas hingga penyakit metabolik seperti diabetes melitus,” jelasnya.
Dalam membaca label gizi, orang tua juga perlu mencermati urutan informasi dengan melihat takaran saji dan total energi yang tertera pada bagian awal kemasan sebagai acuan dasar dalam menghitung pemenuhan kebutuhan gizi harian anak.
Selanjutnya, orang tua perlu memastikan kandungan protein dalam susu sesuai dengan kebutuhan harian anak serta mencermati zat gizi lain yang berperan dalam mendukung tumbuh kembang.
“Orang tua juga perlu mencermati kandungan zat besi dan zinc yang penting untuk pembentukan sel darah merah, pertumbuhan fisik, serta imunitas tubuh, tak kalah penting, keberadaan DHA, Omega 3, dan Omega 6 sangat berperan dalam menunjang tumbuh kembang otak anak,” tambah dr. Feli.
Dokter Felianty juga mengingatkan orang tua agar membandingkan kandungan gizi antarproduk secara sepadan, misalnya dengan membandingkan kandungan DHA murni dan tidak menyamakannya begitu saja dengan cod liver oil.
Hal lain yang sering disalahpahami adalah anggapan bahwa susu menjadi penentu utama keberhasilan pemenuhan gizi anak, padahal susu hanya berperan sebagai pelengkap dalam pola makan anak.
“Susu itu bukan penentu keberhasilan pencapaian nutrisi pada anak, susu hanya pelengkap, tetap orang tua harus mengutamakan pola makan sehat dari real food atau makanan utama,” tuturnya.
Jika anak enggan mengonsumsi makanan utama dan cenderung memilih minum susu, orang tua disarankan tidak langsung menyerah atau menjadikan susu sebagai pengganti makanan.
Orang tua perlu konsisten menerapkan jadwal dan porsi makan utama sebanyak tiga kali sehari agar pola konsumsi anak tetap terjaga dengan baik.










