Beranda / OPINI / Psikolog Memprediksi Hampir Tidak Ada yang Mau: Ternyata 65% Orang Melakukannya

Psikolog Memprediksi Hampir Tidak Ada yang Mau: Ternyata 65% Orang Melakukannya

Oleh : Edwin Manopo, B.Sc (Hons), M.Soc.Sci., CPHt, CCHt, CI., CT. (Master of Psychology & Hypnotherapy, Emotion & Trauma Specialist)

SMARTLIFE.IDIni yang sebenarnya terjadi di kepala investor saham gorengan.

Pukul sepuluh malam, notifikasi grup Telegram itu mendadak ramai.

“Besok pagi ARA, gaskeun dari harga 88,” tulis admin grup. Di bio-nya tertulis “trader profesional”, dengan ribuan follower dan beberapa screenshot profit puluhan hingga ratusan juta rupiah yang sengaja di-pin di bagian atas grup sebagai bukti.

Puluhan member langsung membalas dengan emoji api. Beberapa bertanya, “Masih aman masuk sekarang, Kak?”

“Aman, tambah aja. Ini baru mulai,” jawab admin singkat.

Keesokan paginya, saham itu benar-benar menyentuh Auto Reject Atas (ARA). Mereka yang memutuskan untuk masuk semalam merasa pintar. Sementara, yang belum masuk, mulai gelisah. Mereka takut ketinggalan. Harga terus naik, orang lain terlihat menghasilkan uang. Sebuah pikiran sederhana mulai muncul: kalau tidak masuk sekarang, saya akan ketinggalan.

Mereka pun ikut membeli.

Di harga yang sudah jauh lebih tinggi.

Tiga hari kemudian, saham itu terkunci di Auto Reject Bawah (ARB). Kali ini tidak ada yang berebut membeli. Uang ratusan investor pemula menguap dalam hitungan hari. Sebagian di antara mereka adalah karyawan, guru, bahkan mahasiswa yang baru pertama kali membuka aplikasi sekuritas.

Namun, justru yang paling menarik bukan soal berapa kerugiannya, melainkan siapa yang ikut. Tidak semua dari mereka orang yang ceroboh dan “gampang ditipu”. Banyak dari mereka biasanya sangat berhati-hati soal uang.

Lalu, mengapa mereka bisa ikut?

Sebuah Eksperimen Menjelaskan Fenomena Ini, Jauh Sebelum Saham Digital Lahir

Pada tahun 1961, Stanley Milgram, seorang psikolog, melakukan sebuah eksperimen sederhana. Ia melihat seorang pengusaha yang matang tampak tenang memasuki laboratorium dengan senyum dan penuh percaya diri. Namun, dalam waktu 20 menit, pengusaha itu berubah menjadi sosok yang gemetar hebat dan terbata-bata, serta nyaris mengalami kehancuran mental akibat tekanan saraf.

Relawan dalam eksperimen ini diberi peran sebagai “guru”. Tugasnya membacakan soal kepada seseorang yang berada di ruang sebelah. Setiap kali jawabannya salah, “guru” harus menekan tombol yang diyakini akan mengalirkan sengatan listrik kepada orang tersebut. Tegangannya mulai dari 15 volt untuk kesalahan pertama, 30 volt untuk kesalahan berikutnya, terus meningkat sampai 450 volt. Di dekat angka tertinggi, tertulis peringatan yang sangat jelas: “Danger — Severe Shock”.

Mereka tidak tahu bahwa orang di ruangan sebelah sebenarnya aktor. Sebenarnya tidak ada sengatan listrik sungguhan.

Mereka hanya mengetahui bahwa ada seseorang dengan jas putih laboratorium berdiri di samping mereka. Orang itu dengan tenang memberikan instruksi sederhana, yakni “lanjutkan”, setiap kali mereka ragu untuk menghukum jawaban yang salah.

Sebelum eksperimen dijalankan, para psikiater diminta untuk memperkirakan berapa persen orang biasa (bukan psikopat) yang akan terus menekan tombol sampai level berbahaya? Mereka memprediksi kurang dari satu per seribu orang atau hampir tidak ada. Hanya orang dengan gangguan jiwa yang akan sanggup melakukannya.

Namun, hasilnya meleset sangat jauh dari prediksi. Sebanyak 100% peserta memutuskan untuk lanjut melewati batas yang secara eksplisit ditandai “berbahaya”. Sekitar 65%, atau dua dari tiga orang terus menekan tombol sampai level tertinggi.

Bukan Soal Bodoh. Ini Soal Cara Otak Bekerja.

Di sinilah eksperimen Milgram menjadi relevan. Bukan hanya hasilnya, tapi juga prosedurnya. Peserta tidak dipaksa secara fisik. Orang berjas lab itu juga tidak perlu mengancam atau berteriak. Ia pun sama sekali tidak membujuk dan tidak ada trik psikologis yang rumit. Ia hanya terlihat seperti seseorang yang tahu apa yang sedang dilakukan. Ia berdiri di sana. Ketika peserta ragu, dengan tenang ia memberi instruksi, “Lanjutkan.”

Manusia memiliki kecenderungan untuk menggunakan penilaian orang lain ketika berada di situasi yang baru dan asing. Novelty/sesuatu yang baru bertemu dengan authority/otoritas. Peserta dihadapkan pada ruangan yang belum pernah dimasuki, alat yang belum pernah dilihat, istilah yang belum pernah didengar, atau bau ruangan asing yang belum pernah dicium (novelty).

Ketika tidak tahu harus berbuat apa, kita secara otomatis mencari petunjuk dari orang yang terlihat lebih tahu, lalu menyerahkan sepenuhnya penilaian kita padanya (authority).

Mekanisme ini sebenarnya berguna, yang membuat manusia purba bertahan hidup dengan mengikuti anggota kelompok yang paling berpengalaman. Dalam banyak situasi, belajar dari orang yang lebih berpengalaman menghemat waktu dan energi.

Masalah muncul ketika otak kita keliru membedakan mana orang yang benar-benar kompeten, dan mana yang cuma “terlihat” kompeten.

Kembali ke Grup Telegram

Sekarang mari kita lihat lagi malam ketika saham tersebut ramai dibicarakan. Semua elemennya ada, persis seperti di ruang eksperimen Milgram.

Ada figur yang terlihat kredibel. Dengan bio yang meyakinkan, bukti profit, dan ribuan follower yang memvalidasi kredibilitasnya. Lalu, ada investor pemula yang berada di lingkungan yang asing: aplikasi trading, istilah teknis, angka-angka yang bergerak cepat, sesuatu yang belum pernah dialami banyak investor pemula sebelumnya. Mereka tidak sepenuhnya tahu apa yang sedang terjadi.

Ada instruksi sederhana, bertahap, dan bukan “pertaruhkan semua tabunganmu”, tapi “coba masuk sedikit” lalu “tambah aja”. Hal ini persis seperti kenaikan volt demi volt di eksperimen itu.

Tidak ada yang mengancam investor pemula untuk membeli. Tidak perlu. Kombinasi otoritas yang meyakinkan dan situasi yang asing sudah cukup untuk membuat penilaian pribadi mereka mundur ke belakang.

Satu keputusan menghasilkan keputusan berikutnya. Harga naik sedikit, keyakinan bertambah. Orang lain ikut masuk, keyakinan semakin kuat. Ketika seseorang mulai ragu, suasana grup memberi sinyal bahwa keraguan itu tidak perlu. Akhirnya, keputusan pribadi terasa semakin kecil. Kerumunanlah yang mengambil keputusan untuk kita.

Inilah sebabnya menyalahkan korban dengan berkata “ya salah sendiri serakah” atau “ya salah sendiri gak riset” selalu terasa tidak lengkap. Eksperimen ini dilakukan pada orang-orang biasa, bukan orang yang secara khusus gampang ditipu. Siapa pun, dalam situasi yang tepat, rentan terhadap pola yang sama.

Mengenali polanya adalah langkah pertama untuk melindungi diri. Meski begitu, otoritas yang meyakinkan sebenarnya belum cukup kuat untuk membuat ratusan orang bergerak bersamaan. Ada satu bahan lagi yang membuat semuanya bekerja—dan bahan itu bahkan tidak butuh figur berpengaruh sama sekali. Cukup satu hal sederhana, yakni melihat orang lain di sekitar kita diam dan mengikuti saja (Tribal Influence/Pengaruh Kelompok). Inilah mekanisme otak yang sudah diwariskan kepada kita dari leluhur kita untuk bertahan hidup.

Tag: